Damaskus, 04 Ramadhan 1442 H
Alhamdulillah, tsumma Alhamdulillah.
Amma ba'du,
Suara bising lalu lalang kendaraan masih saja terdengar hingga gubuk kami. Barangkali gubuk kami berada didekat jalanan menuju puncak gunung Qasiyun, suara 'ngeden' kendaraan lantaran jalan menanjak membuat telinga kami mulai bersahabat dengannya. Suara klakson angkutan umum pun demikian saling bersahutan. Namun tidak untuk pengguna sepeda motor laki yang suaranya nyaring itu. Ditambah lagi dengan lagaknya yang seolah punya motor ia seorang. Nge-gas dan mblayer-mblayer benar-benar membuat kami ngelus dada.
Saat Ramadhan tiba, lalu lalang itu sedikit agak berbeda dengan hari biasanya. Khususnya di pagi hari. Meski aktivitas tetap berjalan sebagaimana mestinya, namun di pagi hari sedikit lebih lengang dan sepi. Mayoritas toko baru buka menjelang Dzuhur. Warung makan dan kedai juga banyak yang tutup. Tapi ada pula yang dibuka secara terang benderang. Seperti beberapa kafe yang pernah saya lihat di pusat kota. Barangkali menyediakan para musafir atau ibu-ibu atau siapa. Kali aja.
![]() |
| Jalan raya Asaduddin, Damaskus. |
Saat subuh tiba, umat Islam berbondong-bondong ke masjid. Saf shalat tampak lebih berlipat. Tak pandang usia, mereka benar-benar terlihat antusias dan penuh semangat. Bulan Ramadhan memang mengubah wajah masjid bagi jamaahnya. Wajah indah masjid tua khas kota Damaskus kian memancarkan ruh nya. Selain aroma kuno yang ditawarkan, masjid-masjid ini selalu mengundang ketenangan jiwa bagi jamaahnya. Terlebih masjid yang terletak di perkampungan, gang-gang sempit, atau yang di kawasan Damaskus kuno. Adem, ayem, tentrem. Tiga istilah itulah yang saya kira tepat menggambarkan suasana hati saat masuk masjid-masjid itu.
Setelah selesai shalat subuh berjamaah, aktivitas berlanjut dengan kajian singkat oleh imam masjid. Ada juga yang menggelar pembacaan kitab yang di khatamkan selama bulan Ramadhan. Dalam istilah pesantren di Jawa disebut balagh Ramadhan atau ngaji pasan. Atau ada pula sebagian masjid yang memilih untuk tidak mengubah jadwal kegiatannya. Ia memilih istiqamah dalam kegiatan pembacaan kitab shahih Bukhari misalnya, atau masih lanjut dalam kegiatan tasmi' (setor Al-Qur'an lewat bacaan ataupun hafalan dihadapan guru yang mumpuni) seperti hari-hari biasanya. Kegiatan mulia ini terus berjalan dari masa ke masa hingga saat ini.
Tiap masjid memang memiliki kegiatan unggulan masing-masing. Tergantung kebijakan penanggung jawab masjid. Namun kebijakan-kebijakan itu juga tak terlepas dari monitoring menteri agama (Wizaratu al-Auqaf) sebagai penaung semua masjid yang ada di Suriah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar