Damaskus, 02 Ramadhan 1442 H
Alhamdulillah, segala puji Allah SWT yang telah memberikan kita nikmat yang tak terhingga nan tak pernah purna. Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT, kita masih diberikan kesempatan untuk mengumpulkan pundi-pundi amal ibadah di bulan yang penuh keberkahan ini.
Ya, diantara nikmat itu ialah, kita masih menjumpai bulan Ramadhan dengan kondisi fisik yang sehat wal afiyat. Sudah menjadi keharusan bagi kita yaitu meningkatkan volume rasa syukur kita terhadap nikmat yang teramat besar ini. Ditengah kondisi kemelut pandemi yang masih tidak menentu, kesehatan menjadi bagian terpenting untuk lebih diwaspadai dan disadari lagi.
Lihatlah, betapa banyak saudara kita hari ini yang tengah terbaring lemas di rumah sakit. Betapa mereka telah mendambakan kondisi bugar seperti kita saat ini. Bisa menikmati keindahan bulan Ramadhan dengan segala aktivitas yang bernilai didalamnya.
«نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فيهما كثيرٌ من الناس: الصحةُ، والفراغُ».
(الحديث)
Dua nikmat yang banyak dilalaikan oleh manusia: kesehatan dan waktu luang.
![]() |
| Masjid Rukniyah, Ruken ed-Dien. |
Amma ba'du,
Dalam tulisan ringkas ini, sejatinya saya hanya ingin berbagi cerita tentang pengalaman mondar-mandir saya selama bulan Ramadhan di Damaskus, Suriah, tempat saya melabuhkan cinta. Entah lahir dari mondar-mandir beneran, ataupun pikiran saya saja yang mondar mandir demi menguak dan mengambil faedah setiap harinya.
Sekali lagi, Alhamdulilah ala kulli hal, tahun ini shalat tarawih di masjid-masjid Suriah kembalid digelar Setelah tahun lalu ditangguhkan lantaran gejolak pandemi covid, tahun ini menjadi kebahagiaan tersendiri bagi saya pribadi dan bagi warga Suriah pada umumnya.
Shalat tarawih perdana, saya memutuskan untuk shalat di masjid Isa Kurdi an-Naqsyabandi. Lokasinya tidak jauh dari tempat tinggal saya. Kira-kira 50 meter ke arah selatan dari rumah kontrakan. Saat ini masjid itu dipimpin oleh Syekh Abdur Razaq Jalilati yang sekaligus menjadi imam shalat maktubah. Beliau juga menjadi Imam tarawih malam itu. Namun hanya sampai di rakaat ke delapan, kemudian digantikan ustadz Yusuf dan dilanjutkan oleh putra Syekh Abdur Razaq sendiri. Ia masih teramat muda, namun bacaan Al-Qur'an nya tidak usah ditanya.
Disini kultum atau mauidzah singkat umumnya disampaikan setelah selesai rakaat ke delapan. Sang imam berdiri kemudian menyampaikan materi. Baru setelah kultum, jama'ah diberikan keleluasaan untuk melanjutkan shalat tarawih di rumah atau bersedia melanjutkan di masjid bersama jamaah yang setia.
Malam itu Syekh Abdur Razzaq tidak banyak menyampaikan materi maupun teori yang berat-berat. Justru beliau menyampaikannya dengan simpel, ringkas, namun padat makna. Tema yang diusung beliau adalah berkenaan dengan al-Hilmi, sifat murah hati. Ulasannya benar-benar enak dan menyentuh. Saya mendengar seksama dawuh-dawuh beliau. Setelah tiba dipenghujung, dalam-dalam saya lebih berkonsentrasi untuk menyimak. Saya tertarik dengan penutup kultum tersebut. Dengan ketelatenan beliau sebagai tokoh masyarakat, beliau mewanti-wanti agar lebih menjaga kesehatan di masa pandemi ini.
Sebagai contoh, beliau menyarankan agar membawa sajadah dan membawa botol minuman kecil dari rumah masing-masing. Selain anjuran membawa masker dan physical distancing, beliau juga menekankan agar berjamaah dirumah saja kalau merasa dirinya sedang kurang sehat, terlebih ada gejala virus Corona. Khusus poin terakhir, beliau mengulang-ulang anjuran tersebut seraya meminta tolong dengan sangat agar kembali diperhatikan. Saya melihat, tampak diwajahnya rasa cinta yang tersirat dalam permintaan tolong dan "ayo, sadarlah".
Sebelum ditutup, beliau membuat analogi apik. Sederhana namun syarat makna. Kita tahu bahwa kanjeng nabi Muhammad Saw. menghimbau agar umatnya selalu menjaga kebersihan. Diantaranya itu, kebersihan dan kesegaran bau mulut. Dengan alasan menjaga perasaan orang lain, sebaiknya kita tidak memakan bawang merah dan putih ketika hendak keluar rumah. Dalam hadits; menuju masjid. Khawatir bau tak sedap mulut kita akan mengganggu atau bahkan membuat jengkel orang yang berada didekat kita.
Alasan ini perlu kita garis bawahi. Kalau dengan alasan khawatir mengganggu saja diperhatikan kanjeng nabi, lalu bagaimana dengan alasan membahayakan orang lain?
لا ضرر ولا ضرار
Tidak boleh melakukan sesuatu yang membahayakan diri sendiri ataupun orang lain.
Dalam hal ini covid tentu jauh lebih membahayakan. Jadi, sekali lagi, kita harus waspada. Patuhi protokol kesehatan, jika dari kita ada gejala sebaiknya jangan menuruti ego untuk berjamaah di masjid. Beribadah di rumah dengan niat menolong orang, tidak membahayakan kesehatan sesama.
Ala kulli hal,
Saya melihat sikap Syekh Abdur Razzaq sebagai tokoh masyarakat perlu diacungi jempol. Dengan ketelatenan, beliau memandu dan ngemong masyarakat dengan penuh kesabaran. Semoga beliau senantiasa diberikan kesabaran dan keistikamahan. Begitu juga kita semua. Amin.
Semoga bermanfaat.
Ben Saleem,
Kamis, 14 April 2020

Tidak ada komentar:
Posting Komentar