Damaskus, 4 Ramadhan 1442 H.
Alhamdulillah, segala kenikmatan yang kita nikmati saat ini datangnya dari Allah SWT. Nikmat sehat, nikmat beribadah, nikmat berpuasa, membaca Alqur'an, semuanya merupakan nikmat dari Allah SWT yang perlu disyukuri. Bagaimana caranya? Dengan melakukan ibadah lagi, puasa lagi, membaca Alqur'an lagi, dipertahankan terus menerus. Atau kita bisa melebarkan sayap dengan melaksanakan ibadah-ibadah lain. Tak lupa, tentu diimbangi juga dengan tidak melakukan apa yang telah dirambu-rambukan lewat kanjeng nabi Muhammad Saw. Kita kekang diri kita untuk tidak melakukan kemaksiatan. Sebisa mungkin, semoga bisa. Bi idznillah.
Amma ba'du,
Berbicara tentang Tarling, tidak akan ada habisnya. Hampir bisa dipastikan akan ada cerita dan pengalaman baru setiap usainya. Oh ya, dalam kamus istilah saya, Tarling adalah shalat tarawih keliling. Tarawih keliling ini saya gandrungi semenjak tahun 2019. Sebelum covid mewabah. Tahun 2020 terpaksa harus libur karena semua masjid ditutup. Tahun ini saya akan melanjutkannya, tapi mungkin tidak se-trengginas tahun 2019. Ya, harus lebih waspada saja.
Bagi saya, Tarling ini bukan sekedar nilai ibadah badaniyah yang pahalanya melimpah. Itu sudah jelas. Lebih dari itu, kegiatan Tarling ini sejatinya saya maknai sebagai upaya dalam memperbanyak tempat sujud. Sehingga, semakin banyak tempat yang kita buat sujud, tentu kelak akan semakin banyak pula yang menjadi saksi di hadapan-Nya. In Sya Allah. Selain itu, adalah sebuah aksi blusukan dari masjid ke masjid dengan tujuan eksplorasi masjid-masjid tua.
Sedari dulu, saya sudah jatuh cinta dengan bangunan tua, terlebih masjid dan menaranya. Tanpa alasan, hanya unik saja jika dipandang. Saat melihatnya, tak jarang imajinasi saya diajak terbang ke zaman dahulu kala. Terbayang, betapa kerennya saya bisa shalat di tempat sahabat-sahabat nabi bermunajat. Atau barangkali sujud kita tepat dan nyocoki dengan letak majlis wali-wali besar digelar. Atau Bisa jadi tempat yang saya lewati sudah pernah dilalui juga oleh para Nabi. Nabi Khidir, nabi Dzul kifli, nabi Yahya semisal. Alhamdulillah, bi fadhlika ya Rabb.
Kembali ke topik utama, masjid yang saya bidik malam pertama adalah masjid Isa Kurdi an-Naqsyabandi. Lokasinya sangat terjangkau. Kurang lebih 50 meter dari rumah kontrakan. Saya putuskan untuk melabuhkan malam pertama di masjid ini karena faktor cuaca. Angin dan suhu dingin kembali menyelimuti kota tua Damaskus dipermulaan puasa ini. Waqila, ini menjadi kali pertama bulan puasa menyisakan hawa-hawa dingin kendati waktu shalat sudah berganti musim panas.
Masjid ini selesai dibangun tahun 1926 M. Dilihat dari namanya, masjid ini dinisbatkan kepada Mursyid tarekat an-Naqsyabandiyah yaitu Syekh Isa bin Talhah al-Kurdi an-Naqsyabandi. Ia adalah penerus Syekh Khalid an-Naqsyabandi al-Baghdadi, Imam besar tarekat Naqsyabandiyah ke-31. (Baca silsilah adz-Dzahabiyah tarekat Naqsyabandiyah).
Letak masjid ini di bawah lereng gunung Qasiyun, Ruken ed-Dien, Damaskus. Dekat pemakaman umum Syekh Khalid. Mayoritas jama'ah yang hadir tentu Ahlu Jabal. Orangnya santun, guyub, dan sederhana. Saat ini masjid ini dipimpin oleh Syekh Abdur Razaq dan ustadz Yusuf. (Lihat tulisan sebelumnya, 'R01').
![]() |
Malam kedua saya memutuskan turun gunung. Karena memang letak masjid ini berada dibawah. Namanya masjid Yunus Agha. Kurang lebih setengah kilometer dari tempat tinggal. Masjid ini dibangun tahun 1857 M oleh Syekh Yunus Agha Umar Daqquri. Ukuran masjid ini nampak lebih besar jika dilihat dari luar. Jika anda masuk ternyata cukup sempit. Barangkali disebabkan penataan ruang dalam yang kurang tepak, rasa-rasanya tidak sebanding dengan bangunan luar. Bahkan saking sempitnya, oleh takmir masjid disediakan tikar panjang yang digelar panjang di gang masjid. Tentu saja diperuntukkan bagi makmum masbuk. Termasuk saya. Jadi ingat shalat Jum'at di Sarang.
![]() |
Ben Saleem,
Kamis, 15 April 2021.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar