Kamis, 22 April 2021

Kultum yang berbeda

Damaskus, 10 Ramadhan 1442 H

Alhamdulillah, kita selalu mencoba untuk sadar diri untuk melahirkan rasa syukur dalam diri. Berusaha ingat, tidak acuh dan lalai setiap hari. Tak perlu menunggu nikmat-nikmat yang bersifat zahir, datang nikmat baru kita ingat. Terus berlatih untuk merenunglah, sesaat saja umur kita berlalu, berapa juta bahkan milyar nikmat yang kita rasakan saat itu. Seringkali kita tidak sadar, tentu, atau bahkan selalu.

Amma ba'du,

Kamis sore, saya turut hadir dalam pagelaran maulid nabi di ndalem Syekh Yasir al-Qadhmani. Acara ini digelar di malam Jum'at terakhir setiap bulannya. Tepat sejam sebelum Maghrib, acara ini dimulai. Menjadi pembuka, kita membaca wirid bersama-sama. Kemudian setelah itu baru dimulai membaca maulid, mauidzah, shalat Maghrib berjamaah, dan diakhiri dengan buka bersama. Selain Ramadhan, acara ini dimulai habis Maghrib. Dengan mempertimbangkan kondisi, acara ini diajukan sore hari dan selesai sebelum adzan isya'.

Ndalem beliau saat ini berada di distrik Muhajirin, lereng gunung Qasiyun bagian selatan. Dari rumah, kira-kira setengah jam ditempuh dengan berjalan kaki. Kalau naik angkutan umum biasanya (saat ini) ditarif 100 Lira Suriah.

Melihat jam tinggal beberapa menit lagi adzan isya' berkumandang, saya memutuskan shalat isya dan shalat tarawih di masjid terdekat. Masjid Syamsyiyah nama masjid itu. Dalam beberapa kesempatan Syekh Yasir mengisi pengajian di masjid tersebut. Beliau mengampu kitab tafsir Baghawi hari kamis habis shalat subuh. Untuk hari Rabu usai shalat Maghrib, beliau juga membacakan kitab Nawadirul Ushul dan Taisir syarh Jami' Shagir. Masjid ini juga menjadi langganan diadakannya nisfu Sya'ban yang dihadiri Syekh Nuruddin al-'Itr dan sebagian pembesar ulama Syam tiap tahunnya.
 
Masjid Syamsyiyah, Muhajirin.


Syekh Nuruddin al-'Itr, pakar Hadits Damaskus, di masjid Syamsyiyah.

Ada hal baru tiap kali saya singgah dalam masjid saat tarling (tarawih keliling). Sebenarnya sudah lazim masjid-masjid di Damaskus yang secara istikamah mendawamkan tarawih dengan khataman 30 juz. Di tahun 2019 lalu, saya menjumpai beberapa masjid yang melaksanakan khataman, seperti masjid Zaid bin Tsabit, Shalahuddin Al Ayyubi, masjid agung Bani Umayyah, dll. Namun, di masjid Syamsyiyah ini, saya menjumpai hal yang menurut saya cukup unik. Saya melihatnya unik, sebab ada metode baru yang dilakukan saat shalat tarawih dilangsungkan. 

Tidak seperti metode tarawih di masjid-masjid pada umumnya, dimana kultum dilakukan setelah selesai rakaat ke delapan, masjid Syamsyiyah ini bisa dikatakan tanpa kultum. Namun sang imam menggantinya dengan membacakan isi kandungan ayat yang akan dibaca sebelum shalat tarawih didirikan. Mudahnya, sang Imam fokus membawakan tafsir singkat dan ilmu tafsir. Semisal, sang imam waktu itu akan membaca surat At-Taubah. Sebelum berdiri untuk shalat, ia menerangkan secara ringkas, sistematis dan tentunya dalam sekala umum apa saja yang berkaitan dengan bacaan yang akan dibaca di-empat rakaat awal. Menjadi pembuka sebelum berdiri, sang imam menerangkan klasifikasi surat At-Taubah yang tergolong surat Madaniyah dan diturunkan setelah perang Tabuk. Selain itu, beliau juga mengupas misteri surat At-Taubah yang tanpa basmalah. Keganjalan i'rab yang seringkali diwanti-wanti juga diterangkan. Seperti kata 'warasuluhu' dalam kalimat أن الله بريء من المشركين ورسوله dan lain-lain. 

Pembacaan tafsir dan ilmu tafsir singkat ini disampaikan setiap selesai rakaat ke empat dan kelipatannya sampai akhir rakaat. Jadi makmum bisa istirahat sejenak dan mendengarkan pengajian singkat itu. Harapannya adalah agar hati para jamaah lebih hadir sehingga mereka mampu mendalami isi kandungan ayat sebelum dibacakan saat shalat. Uniknya disini. Meski sedikit memakan waktu, tapi dalam sebulan Ramadhan penuh kita mampu menyelami sedikit banyak kandungan Al-Qur'an dan ilmu Al-Qur'an itu sendiri. 

Barangkali dua jam lebih tarawih ini berjalan tak terasa. Disayangkan sekali saya tidak melihat jam untuk mengukur atau membatasi waktunya secara pas. Paling tidak untuk modal saya bisa menulis cerita ini secara akurat. Karena mohon maaf, sekali lagi mohon maaf, di rakaat ke delapan saya sudah diajak teman saya meneruskan rakaat selebihnya di rumah masing-masing. 

Tampak dari dalam masjid Syamsyiyah.


Ben Saleem,
22 April 2021 

Selasa, 20 April 2021

Kedermawanan yang tidak ada duanya


Damaskus, 08 Ramadhan 1442 H

Alhamdulillah, dengan pertolongan yang Allah SWT berikan kepada kita, hal-hal yang dilarang oleh syariat-Nya dengan mudah kita sanggup untuk tidak menerjangnya. Pun, amalan-amalan ibadah yang dengan semangat telah kita lakukan, seringkali tidak kita sadari bahwa itu semua atas kuasa Allah SWT. 


Amma ba'du,

Dalam postingan yang diunggah guru kami ini, agaknya cukup menarik seandainya saya mengulasnya sedikit. Syekh Muhammad 'Ied Manshur menyitir perkataan Ibnu Batuta terkait kelebihan penduduk Damaskus dibanding penduduk kota lain. 

Menurut cendekiawan asal Maroko yang pernah berkelana ke berbagai pelosok dunia ini, Damaskus adalah kota istimewa. Dari masa ke masa, keistimewaan yang dimiliki Damaskus dan penduduknya itu tetap melekat dan tak pernah pudar hingga saat ini. 

Adalah keguyuban dan kedermawanan penduduknya menjadi ciri khas kelebihan salah satu kota tertua di dunia ini. Diantara potret sifat yang tercermin dari pada itu ialah, bahwa hampir tidak ditemukan penduduk Damaskus saat berbuka puasa ia dalam kesendirian. Artinya, banyak dari saudara-saudara muslim lainnya yang tulus mengulurkan tangannya. Pejabat negara maupun hakim2 tertinggi gemar menggelar buka puasa bersama (bukber) mengundang orang-orang yang berkekurangan. Pun, para pembesar di kota ini. Dalam satu meja makan dengan tulus mereka mau berbagi. 

Pedagang pun demikian, mereka berlomba-lomba menginvestasikan hasil keuntungannya untuk tetangga, fakir miskin, pelajar agama, maupun handai taulan yang dibulan Ramadhan khususnya, mereka butuh sokongan dalam hal finansial. Dan ini bukan sekedar isapan jempol atau hanya tinggal cerita saja. Sekali lagi, ini fakta yang kami rasakan langsung kedermawanan penduduk Syam, khususnya Damaskus. Bahkan saat tulisan ini saya buat, baru saja kami menerima pemberian ifthar (buka puasa) dari salah satu pedagang samping masjid dekat tempat tinggal kami, masjid Isa Kurdi an-Naqsyabandi. Saya kira cuma fathair lahmeh (roti gilingan daging tipis2) yang biasa dibagikan saat Ramadhan. Tapi ternyata kami menerima dua plastik ukuran sedang, berjubel menu puasa sepesial. Setidaknya ada tujuh menu makanan yang siap kami santap. Ada juga jus strawberry yang segarnya tiada tanding. Terimakasih, khoyu'.. Semoga segala urusan anda beserta keluarga, dipermudah oleh Allah SWT. Lain kali, insya Allah kebaikan mu akan kami balas juga dengan butiran-butiran bakso dan bakwan. In sya Allah..



Ben Saleem,

Selasa, 20 April 2021 


Kamis, 15 April 2021

Menilik kegiatan warga Damaskus saat bulan Ramadhan (1)

Damaskus, 04 Ramadhan 1442 H

Alhamdulillah, tsumma Alhamdulillah.

Amma ba'du, 

Suara bising lalu lalang kendaraan masih saja terdengar hingga gubuk kami. Barangkali gubuk kami berada didekat jalanan menuju puncak gunung Qasiyun, suara 'ngeden' kendaraan lantaran jalan menanjak membuat telinga kami mulai bersahabat dengannya. Suara klakson angkutan umum pun demikian saling bersahutan. Namun tidak untuk pengguna sepeda motor laki yang suaranya nyaring itu. Ditambah lagi dengan lagaknya yang seolah punya motor ia seorang. Nge-gas dan mblayer-mblayer benar-benar membuat kami ngelus dada. 

Saat Ramadhan tiba, lalu lalang itu sedikit agak berbeda dengan hari biasanya. Khususnya di pagi hari. Meski aktivitas tetap berjalan sebagaimana mestinya, namun di pagi hari sedikit lebih lengang dan sepi. Mayoritas toko baru buka menjelang Dzuhur. Warung makan dan kedai juga banyak yang tutup. Tapi ada pula yang dibuka secara terang benderang. Seperti beberapa kafe yang pernah saya lihat di pusat kota. Barangkali menyediakan para musafir atau ibu-ibu atau siapa. Kali aja.

Jalan raya Asaduddin, Damaskus.


Saat subuh tiba, umat Islam berbondong-bondong ke masjid. Saf shalat tampak lebih berlipat. Tak pandang usia, mereka benar-benar terlihat antusias dan penuh semangat. Bulan Ramadhan memang mengubah wajah masjid bagi jamaahnya. Wajah indah masjid tua khas kota Damaskus kian memancarkan ruh nya. Selain aroma kuno yang ditawarkan, masjid-masjid ini selalu mengundang ketenangan jiwa bagi jamaahnya. Terlebih masjid yang terletak di perkampungan, gang-gang sempit, atau yang di kawasan Damaskus kuno. Adem, ayem, tentrem. Tiga istilah itulah yang saya kira tepat menggambarkan suasana hati saat masuk masjid-masjid itu.

Setelah selesai shalat subuh berjamaah, aktivitas berlanjut dengan kajian singkat oleh imam masjid. Ada juga yang menggelar pembacaan kitab yang di khatamkan selama bulan Ramadhan. Dalam istilah pesantren di Jawa disebut balagh Ramadhan atau ngaji pasan. Atau ada pula sebagian masjid yang memilih untuk tidak mengubah jadwal kegiatannya. Ia memilih istiqamah dalam kegiatan pembacaan kitab shahih Bukhari misalnya, atau masih lanjut dalam kegiatan tasmi' (setor Al-Qur'an lewat bacaan ataupun hafalan dihadapan guru yang mumpuni) seperti hari-hari biasanya. Kegiatan mulia ini terus berjalan dari masa ke masa hingga saat ini. 

Tiap masjid memang memiliki kegiatan unggulan masing-masing. Tergantung kebijakan penanggung jawab masjid. Namun kebijakan-kebijakan itu juga tak terlepas dari monitoring menteri agama (Wizaratu al-Auqaf) sebagai penaung semua masjid yang ada di Suriah. 







Tarling; Tarawih keliling & ekplorasi masjid kuno

Damaskus, 4 Ramadhan 1442 H.

Alhamdulillah, segala kenikmatan yang kita nikmati saat ini datangnya dari Allah SWT. Nikmat sehat, nikmat beribadah, nikmat berpuasa, membaca Alqur'an, semuanya merupakan nikmat dari Allah SWT yang perlu disyukuri. Bagaimana caranya? Dengan melakukan ibadah lagi, puasa lagi, membaca Alqur'an lagi, dipertahankan terus menerus. Atau kita bisa melebarkan sayap dengan melaksanakan ibadah-ibadah lain. Tak lupa, tentu diimbangi juga dengan tidak melakukan apa yang telah dirambu-rambukan lewat kanjeng nabi Muhammad Saw. Kita kekang diri kita untuk tidak melakukan kemaksiatan. Sebisa mungkin, semoga bisa. Bi idznillah.

Amma ba'du,

Berbicara tentang Tarling, tidak akan ada habisnya. Hampir bisa dipastikan akan ada cerita dan pengalaman baru setiap usainya. Oh ya, dalam kamus istilah saya, Tarling adalah shalat tarawih keliling. Tarawih keliling ini saya gandrungi semenjak tahun 2019. Sebelum covid mewabah. Tahun 2020 terpaksa harus libur karena semua masjid ditutup. Tahun ini saya akan melanjutkannya, tapi mungkin tidak se-trengginas tahun 2019. Ya, harus lebih waspada saja. 

Bagi saya, Tarling ini bukan sekedar nilai ibadah badaniyah yang pahalanya melimpah. Itu sudah jelas. Lebih dari itu, kegiatan Tarling ini sejatinya saya maknai sebagai upaya dalam memperbanyak tempat sujud. Sehingga, semakin banyak tempat yang kita buat sujud, tentu kelak akan semakin banyak pula yang menjadi saksi di hadapan-Nya. In Sya Allah. Selain itu, adalah sebuah aksi blusukan dari masjid ke masjid dengan tujuan eksplorasi masjid-masjid tua. 

Sedari dulu, saya sudah jatuh cinta dengan bangunan tua, terlebih masjid dan menaranya. Tanpa alasan, hanya unik saja jika dipandang. Saat melihatnya, tak jarang imajinasi saya diajak terbang ke zaman dahulu kala. Terbayang, betapa kerennya saya bisa shalat di tempat sahabat-sahabat nabi bermunajat. Atau barangkali sujud kita tepat dan nyocoki dengan letak majlis wali-wali besar digelar. Atau Bisa jadi tempat yang saya lewati sudah pernah dilalui juga oleh para Nabi. Nabi Khidir, nabi Dzul kifli, nabi Yahya semisal. Alhamdulillah, bi fadhlika ya Rabb. 

Kembali ke topik utama, masjid yang saya bidik malam pertama adalah masjid Isa Kurdi an-Naqsyabandi. Lokasinya sangat terjangkau. Kurang lebih 50 meter dari rumah kontrakan. Saya putuskan untuk melabuhkan malam pertama di masjid ini karena faktor cuaca. Angin dan suhu dingin kembali menyelimuti kota tua Damaskus dipermulaan puasa ini. Waqila, ini menjadi kali pertama bulan puasa menyisakan hawa-hawa dingin kendati waktu shalat sudah berganti musim panas. 

Masjid ini selesai dibangun tahun 1926 M. Dilihat dari namanya, masjid ini dinisbatkan kepada Mursyid tarekat an-Naqsyabandiyah yaitu Syekh Isa bin Talhah al-Kurdi an-Naqsyabandi. Ia adalah penerus Syekh Khalid an-Naqsyabandi al-Baghdadi, Imam besar tarekat Naqsyabandiyah ke-31. (Baca silsilah adz-Dzahabiyah tarekat Naqsyabandiyah).

Letak masjid ini di bawah lereng gunung Qasiyun, Ruken ed-Dien, Damaskus. Dekat pemakaman umum Syekh Khalid. Mayoritas jama'ah yang hadir tentu Ahlu Jabal. Orangnya santun, guyub, dan sederhana. Saat ini masjid ini dipimpin oleh Syekh Abdur Razaq dan ustadz Yusuf. (Lihat tulisan sebelumnya, 'R01').

Masjid Isa Kurdi an-Naqsyabandi, lereng Qasiyun. (Foto: Ala')


Malam kedua saya memutuskan turun gunung. Karena memang letak masjid ini berada dibawah. Namanya masjid Yunus Agha. Kurang lebih setengah kilometer dari tempat tinggal. Masjid ini dibangun tahun 1857 M oleh Syekh Yunus Agha Umar Daqquri. Ukuran masjid ini nampak lebih besar jika dilihat dari luar. Jika anda masuk ternyata cukup sempit. Barangkali disebabkan penataan ruang dalam yang kurang tepak, rasa-rasanya tidak sebanding dengan bangunan luar. Bahkan saking sempitnya, oleh takmir masjid disediakan tikar panjang yang digelar panjang di gang masjid. Tentu saja diperuntukkan bagi makmum masbuk. Termasuk saya. Jadi ingat shalat Jum'at di Sarang.  



Masjid Yunus Agha, Asaduddin.


Ben Saleem, 

Kamis, 15 April 2021. 



Rabu, 14 April 2021

Kultum unik di tarawih perdana

Damaskus, 02 Ramadhan 1442 H

Alhamdulillah, segala puji Allah SWT yang telah memberikan kita nikmat yang tak terhingga nan tak pernah purna. Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT, kita masih diberikan kesempatan untuk mengumpulkan pundi-pundi amal ibadah di bulan yang penuh keberkahan ini.

Ya, diantara nikmat itu ialah, kita masih menjumpai bulan Ramadhan dengan kondisi fisik yang sehat wal afiyat. Sudah menjadi keharusan bagi kita yaitu meningkatkan volume rasa syukur kita terhadap nikmat yang teramat besar ini. Ditengah kondisi kemelut pandemi yang masih tidak menentu, kesehatan menjadi bagian terpenting untuk lebih diwaspadai dan disadari lagi.

Lihatlah, betapa banyak saudara kita hari ini yang tengah terbaring lemas di rumah sakit. Betapa mereka telah mendambakan kondisi bugar seperti kita saat ini. Bisa menikmati keindahan bulan Ramadhan dengan segala aktivitas yang bernilai didalamnya.

«نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فيهما كثيرٌ من الناس: الصحةُ، والفراغُ».
(الحديث)

Dua nikmat yang banyak dilalaikan oleh manusia: kesehatan dan waktu luang.

Masjid Rukniyah, Ruken ed-Dien.

Amma ba'du,

Dalam tulisan ringkas ini, sejatinya saya hanya ingin berbagi cerita tentang pengalaman mondar-mandir saya selama bulan Ramadhan di Damaskus, Suriah, tempat saya melabuhkan cinta. Entah lahir dari mondar-mandir beneran, ataupun pikiran saya saja yang mondar mandir demi menguak dan mengambil faedah setiap harinya. 

Sekali lagi, Alhamdulilah ala kulli hal, tahun ini shalat tarawih di masjid-masjid Suriah kembalid digelar Setelah tahun lalu ditangguhkan lantaran gejolak pandemi covid, tahun ini menjadi kebahagiaan tersendiri bagi saya pribadi dan bagi warga Suriah pada umumnya.

Shalat tarawih perdana, saya memutuskan untuk shalat di masjid Isa Kurdi an-Naqsyabandi. Lokasinya tidak jauh dari tempat tinggal saya. Kira-kira 50 meter ke arah selatan dari rumah kontrakan. Saat ini masjid itu dipimpin oleh Syekh Abdur Razaq Jalilati yang sekaligus menjadi imam shalat maktubah. Beliau juga menjadi Imam tarawih malam itu. Namun hanya sampai di rakaat ke delapan, kemudian digantikan ustadz Yusuf dan dilanjutkan oleh putra Syekh Abdur Razaq sendiri. Ia masih teramat muda, namun bacaan Al-Qur'an nya tidak usah ditanya.

Disini kultum atau mauidzah singkat umumnya disampaikan setelah selesai rakaat ke delapan. Sang imam berdiri kemudian menyampaikan materi. Baru setelah kultum, jama'ah diberikan keleluasaan untuk melanjutkan shalat tarawih di rumah atau bersedia melanjutkan di masjid bersama jamaah yang setia.

Malam itu Syekh Abdur Razzaq tidak banyak menyampaikan materi maupun teori yang berat-berat. Justru beliau menyampaikannya dengan simpel, ringkas, namun padat makna. Tema yang diusung beliau adalah berkenaan dengan al-Hilmi, sifat murah hati. Ulasannya benar-benar enak dan menyentuh. Saya mendengar seksama dawuh-dawuh beliau. Setelah tiba dipenghujung, dalam-dalam saya lebih berkonsentrasi untuk menyimak. Saya tertarik dengan penutup kultum tersebut. Dengan ketelatenan beliau sebagai tokoh masyarakat, beliau mewanti-wanti agar lebih menjaga kesehatan di masa pandemi ini.
Sebagai contoh, beliau menyarankan agar membawa sajadah dan membawa botol minuman kecil dari rumah masing-masing. Selain anjuran membawa masker dan physical distancing, beliau juga menekankan agar berjamaah dirumah saja kalau merasa dirinya sedang kurang sehat, terlebih ada gejala virus Corona. Khusus poin terakhir, beliau mengulang-ulang anjuran tersebut seraya meminta tolong dengan sangat agar kembali diperhatikan. Saya melihat, tampak diwajahnya rasa cinta yang tersirat dalam permintaan tolong dan "ayo, sadarlah".

Sebelum ditutup, beliau membuat analogi apik. Sederhana namun syarat makna. Kita tahu bahwa kanjeng nabi Muhammad Saw. menghimbau agar umatnya selalu menjaga kebersihan. Diantaranya itu, kebersihan dan kesegaran bau mulut. Dengan alasan menjaga perasaan orang lain, sebaiknya kita tidak memakan bawang merah dan putih ketika hendak keluar rumah. Dalam hadits; menuju masjid. Khawatir bau tak sedap mulut kita akan mengganggu atau bahkan membuat jengkel orang yang berada didekat kita.

Alasan ini perlu kita garis bawahi. Kalau dengan alasan khawatir mengganggu saja diperhatikan kanjeng nabi, lalu bagaimana dengan alasan membahayakan orang lain?

لا ضرر ولا ضرار

Tidak boleh melakukan sesuatu yang membahayakan diri sendiri ataupun orang lain.

Dalam hal ini covid tentu jauh lebih membahayakan. Jadi, sekali lagi, kita harus waspada. Patuhi protokol kesehatan, jika dari kita ada gejala sebaiknya jangan menuruti ego untuk berjamaah di masjid. Beribadah di rumah dengan niat menolong orang, tidak membahayakan kesehatan sesama.  

Ala kulli hal,

Saya melihat sikap Syekh Abdur Razzaq sebagai tokoh masyarakat perlu diacungi jempol. Dengan ketelatenan, beliau memandu dan ngemong masyarakat dengan penuh kesabaran. Semoga beliau senantiasa diberikan kesabaran dan keistikamahan. Begitu juga kita semua. Amin. 

Semoga bermanfaat.

Ben Saleem,

Kamis, 14 April 2020