Damaskus, 26 Ramadhan 1442 H
Damaskus, Syam, merupakan salah satu kota yang banyak melahirkan orang-orang saleh, alim sekaligus sufi. Tak bisa dipungkiri, dari masa ke masa kota ini tak pernah kering dari sumber mata air keilmuan dan akhlak mulia. Berbagai aktivitas mulia banyak digelar setiap harinya. Mulai dari halaqah ilmiah, majlis dzikir, pembacaan maulid, majlis riwayah hadits, tarekat-an, dsbg.
Saat bulan Ramadhan tiba, mayoritas ulamanya menepi. Bukan berarti aktivitas mereka berhenti, namun aktivitas tersebut justru lebih diperbanyak dengan lebih mendekatkan diri kepada sang ilahi. Banyak dari mereka yang memfokuskan diri untuk mujahadah dan mengkhatamkan Al-Qur'an.
Dilansir dari masjid Zaid bin Tsabit al-Anshari, bahwa Syekh Abu Hasan Muhyiddin al-Kurdi pernah menjadi imam shalat tarawih di masjid tersebut. Tiap malam beliau membaca satu juz Al-Qur'an bersama penduduk setempat. Namun satu jam usai shalat tarawih, bersama muhibbin dan murid-muridnya, beliau menggelar shalat malam dengan sistem khataman Al-Qur'an. Mulai malam pertama hingga penghujung sepuluh kedua, beliau berhasil mengkhatamkan Al-Qur'an di malam ke-19 dengan rata-rata membaca satu setengah juz tiap malamnya.
Baru ketika masuk sepuluh terakhir bulan Ramadhan, jamaah yang di komandoi Syekh Abu Hasan al-Kurdi ini setiap dua malam berhasil mengkhatamkan Al-Qur'an sekali. Dimulai malam genap yaitu malam ke-20, mereka membaca 15 juz pertama. Di malam ke-21, mereka mengkhatamkan sisanya tepat di malam ganjil. Harapannya tentu adalah dapat meraih Lailatul Qadar tepat disaat mereka mengkhatamkan Al-Qur'an. Dalam khataman tersebut, ada lima imam secara bergantian. Tiap imam dijatah membaca tiga juz Al-Qur'an dengan dua rakaat salam. Iya, benar. Tiap imam dapat bagian membaca tiga juz Al-Qur'an dalam dua rakaat yang ia pimpin.
Dalam kesempatan lain, Syekh Naim 'Araqsusi juga dikhabarkan sangat antusias menyambut malam seribu bulan ini. Di salah satu masjid di Damaskus, beliau menggelar shalat tahajjud dua rakaat dengan membaca tiga juz Al-Qur'an. Tiap hari kesepuluh, (pertama, kedua, dan terakhir) beliau mengkhatamkan Al-Qur'an. Kemudian beliau mengadakan sahur bersama di rumah Syekh Abdul Karim ar-Rifai untuk "ngalap berkah" khataman.
Lebih dari itu, saya pernah mendengar cerita bahwa sekumpulan orang-orang shalih disini ada yang mengkhatamkan Al-Qur'an hanya semalam. Salah satu diantaranya ialah Syekh Shalih al-Faruji. Fenomena spektakuler telah ini banyak menginspirasi sesama.
Demikianlah sekelumit potret kegiatan orang-orang shalih Damaskus saat menghidupkan malam Lailatul Qadar. Tentu masih banyak lagi gambaran kegiatan mereka lalui. Semoga bermanfaat!










