Minggu, 10 Mei 2020


Belajar dari keluarga Syaikh Muhammad Yasir Al-Qadhmani Ad-Dimasyqi.

18 Ramadhan 1441 H.

Pagi ini adalah hari pertama bulan Ramadhan. Betapa agungnya Ramadhan tahun ini. Dengan Sayyidul Ayyam mengawali. Semoga kita senantiasa diberikan kemudahan. Segala kemudahan menuju Tuhan.

Sanad cerita ini saya dapatkan dari Muhammad Tobba'. Salah satu santri Syaikh Yasir. Sekaligus menjadi khadim. Ia berasal dari Hamat. Salah satu kota tua di Suriah yang terletak di tepi sungai Orontes di bagian barat-tengah Suriah. Berjarak sekitar 213 kilometer di sebelah utara Damaskus.

Syaikh Yasir, panggilan akrab Syaikh Muhammad Yasir Al-Qadhmani merupakan salah satu ulama Damaskus yang saat ini dikenal dengan kajian tasawufnya. Begitu sejuk, damai dan ingin terus berlama-lama menjadi kesan para ahbab saat mengaji bersamanya. Diumur yang relatif muda, beliau sudah berhidmah kepada umat dengan menjadi pendakwah selama kurang lebih 25 tahun di Kuwait. Baru ditahun 2009 beliau kembali ke Damaskus dan menjadi pendakwah dan khatib masjid hingga sekarang. Beliau juga pernah berguru kepada guru mulia habib Umar bin Hafidz Yaman. Beliau sangat hormat kepada guru mulia. Pun demikian, habib Umar sangat hormat terhadapnya.

***

Jum'at, bakda shubuh. Entah sudah ke berapa kali. Syaikh Yasir selalu pergi ziarah ke makam ayahanda tercinta. Berada di komplek pemakaman Bab Shaghir. Sahabat nabi, tabiin, perawi hadits, hingga ulama tersohor banyak yang disemayamkan disana.

Sebagai seorang santri yang benar-benar cinta kepada sang guru. Rasa-rasanya apapun yang menjadi kebiasaan baik sang guru sebisa mungkin ia jadikan sebagai tauladan. Rasa ingin selalu bersama, bahkan sakedar memandang wajahnya sangatlah sulit untuk dibendung.

Bermodal rasa rindu dan ingin bertemu itu, Tobba' bersama salah seorang sahabat bernama Muhammad Nauras sengaja menyusul sang guru ke pemakaman Bab Shaghir. Usai mereka berziarah, mereka menghampiri sang Syaikh untuk bersalaman dan saling menanyakan kabar. Melihat sang Syaikh tidak sendirian, Nauras pun bersalaman dan menyapa orang yang berada disamping Syaikh itu. Entah siapa. Sejurus kemudian, orang yang bersama Syaikh tersebut dengan ramah menanyakan kabar serta perihal belajar dan mengaji Nauras.

"Sampai surat apa hafalan Al-Qur'an kamu nak?"

Tanya seseorang yang bersama Syaikh Yasir.

"Afwan ya sidi, saya belum melanjutkan kembali hafalanku, saya benar-benar lalai." Jawab Nauras tertunduk malu.

Memang budaya tasmi' atau menyetorkan hafalan Al-Qur'an dihadapan sang guru bagi pelajar Damaskus masih terasa semerbak wanginya. Di masjid-masjid masih banyak dijumpai pelajar yang menghafalkan Al-Qur'an. Tak terbatas umur. Dari kecil sampai bangku perkuliahan. Menariknya, ada juga yang sudah berkepala tiga. Masih dengan semangatnya yang seolah tidak pernah tua. Juga tidak ada sekat antara penyebutan santri 'kitab' maupun santri 'Al-Qur'an'. Yang mengaji kitab ya tasmi'. Yang biasa tasmi' ya ikut fokus mengaji kitab.

Saya sering melihat mereka mondar-mandir sambil sesekali membuka Al-Qur'an kecil seukuran saku. Ternyata, seperti inilah yang menjadi salah satu metode khas mereka dalam menghafal. Bahkan ada yang mengitari bagian dalam masjid sambil komat-kamit mendaras hafalannya. Entah sudah sampai berapa putaran, pikirku.

Lantas Syaikh Yasir bercerita tentang kejadian semalam. Dialog bersama dua putrinya. Kedua putrinya itu hafal Al-Qur'an.

"Abah, apakah diantara orang salih (saat ini) yang mampu menghatamkan Al-Qur'an hanya semalam saja?"

Tanya salah satu putri Syaikh Yasir.

"Tentu masih ada, nak. Aku pernah satu majelis bersama sekawanan orang-orang shalih itu. Diantaranya ialah Syaikh Shalih Al-Faruji. Mereka telah mengkhatamkan Al-Qur'an dalam waktu semalam."

Jawab Syaikh Yasir.

Setelah mendengar cerita dari sang ayah, sontak sang putri bertekad untuk menghatamkan Al-Qur'an. Cerita dari ayahanda seakan menjelma semangat yang sangat kuat. Bukan sekedar merasuk ke dalam hati, terenyuh dan terbenam dalam perenungan kisah. Sontak putri sang Syaikh bergegas sedini mungkin untuk mengaplikasikan cerita yang ia dengar menjadi amal ibadah yang nyata. Akhirnya ia berhasil mengkhatamkan Al-Qur'an tepat saat adzan subuh berkumandang. Entah bagaimana caranya. Sampai detik ini saya juga masih memikirkannya. Mustahil ia tidur. Eh, mungkin saja. Tapi mungkin tidak sampai selonjoran atau merebahkan tubuhnya. Sekejap ia bangun untuk meneruskan bacaannya. Dan kembali meneruskan bacaannya.

Saat masih dirumah dulu. Saya juga pernah ikut khataman Al-Qur'an di makam Waliyullah Mbah Ahmad Mutamakkin Kajen Pati. Hanya semalaman. Tapi dirombong bareng teman seangkatan. Atau bersama keluarga. Terkadang saya dapat jatah tiga sampai empat jus. Sesekali lebih sedikit. Selebihnya diborong sama bapak, ibu atau sesekali kakak sulung yang hafal Al-Qur'an.

Syahdan, melihat tindakan yang mengejutkan dari saudarinya itu, diam diam putri Syaikh yang satunya ikut bergelora. Ruh ghirah dan himmah tiba-tiba muncul seiring dengan keinginan kuatnya menghatamkan Al-Qur'an seperti saudarinya itu. Dalam keheningan malam ternyata ia juga ikut mengkhataman Al-Qur'an. Dan ajaib, ia khatamkan kalam suci itu dalam semalam juga. Total menjadi tiga khataman Al-Qur'an sekeluarga diawal-awal bulan Ramadhan. Syaikh Yasir sendiri dan kedua putrinya. Belum terhitung sanak keluarga yang lain. Bisa jadi juga ikut bergelora. Tergerak untuk melantunkan ayat-ayat cinta. Melabuhkan kedamaian dalam keluarga. Indah dan penuh barakah. Menumpahkan ibadah dibulan mulia.

Ben Saleem,
Damaskus, 1 Ramadhan 1441 H, di revisi malam 18 Ramadhan 1441 H.